Steam reviewer says 'I am done with this game' after 10,000 hours of Destiny 2, then plays another 160 hours just to be sure
Berita gaming terbaru untuk komunitas Indonesia.
---
Destiny 2 Review: Main 10.000 Jam Masih Belum Puas? Ini Bukti Kalau Game Ini Candu Banget!
---
### 1. Review Story: Light and Darkness, Tapi Lo Tetap Balik Lagi
Destiny 2 ngajak lo mendarat di dunia sci-fi yang penuh misteri: umat manusia nyaris punah, terus lo jadi Guardian—kebangkitan dari masa lalu dengan kekuatan cahaya. Setting-nya epic banget, mulai dari reruntuhan Bumi yang apokaliptik sampai planet-planet asing dengan flora aneh. Premisenya sederhana: lawan Darkness, selamatkan sistem tata surya. Tapi Bungie punya cara unik buat ngeracik cerita lewat seasonal content dan expansion besar kayak The Witch Queen atau Lightfall.
Vibe-nya Dark/Cerah/Netral: Vibe Destiny 2 itu campuran dark fantasy dan space opera. Ada momen lo ngerasain hopelessness pas ngeliat ras alien kayak Hive atau Taken yang serem banget, tapi juga ada cerita heroik yang bikin lo semangat. Tapi jujur, cerita utamanya seringkali clunky—ada bagian yang ngerasa rushed atau malah filler. Makanya vibe-nya lebih ke dark with a touch of hope, tapi kadang kayak sinetron yang gak jelas arah.
Karakter yang "Bernyawa" / "Kaku": Karakter utama lo (Guardian) itu silent protagonist—gak punya dialog, cuma bisa angguk-angguk. NPC kayak Zavala, Ikora, atau Cayde-6 (RIP) punya personality yang kuat, terutama Cayde yang sarkastik. Tapi banyak NPC musiman yang flat banget, cuma jadi quest giver. Secara umum, karakter di Destiny 2 itu Bernyawa untuk tokoh utama cerita, tapi untuk NPC sampingan sering Kaku kayak patung. Bungie udah coba perbaiki lewat cutscene keren, tapi masih ada gap.
Verdict Story: Kekuatan cerita Destiny 2 ada di world-building dan lore yang dalem banget—lo bisa baca grimoire berjam-jam. Kelemahannya: eksekusi naratif kadang messy, apalagi kalau lo baru join dan harus ngejar cerita dari tahun-tahun sebelumnya. Story ini cocok buat lo yang suka lore hunting, tapi buat yang cari narasi linear dan rapi, mungkin bakal frustrating. Skor story: 7/10—epik tapi gak konsisten.
---
### 2. Performance: Visual Dewa, Tapi... Frame Drop di Medan Perang
Destiny 2 pake engine custom Bungie (Tiger Engine) yang udah dimodifikasi sejak era Halo. Visualnya stunning—pemandangan planet, efek cahaya, dan desain senjata detail banget. Tapi performa gak selalu mulus.
PC (Master Race): Di PC high-end (RTX 4090 + i9-13900K) lo bisa dapet 144+ FPS di 4K max setting, dengan DLSS 3 (Frame Generation) support. Mid-end (RTX 3060 / RX 6600) masih nyaman di 60 FPS 1080p medium-high, tapi kadang ada stutter pas banyak efek partikel. Low-end (GTX 1650) harus turun ke low 720p buat dapet 30-40 FPS—saran: upgrade atau main di cloud. Sayangnya, game ini CPU-bound di area ramai (The Tower, Crucible), jadi frame drop sering terjadi.
Konsol (PS5/Xbox Series X): PS5 dan Xbox Series X punya mode Fidelity (30 FPS dengan ray tracing) dan Performance (60 FPS, tanpa RT). Ray tracing di konsol terbatas di area tertentu, tapi overall stabil 60 FPS di mode performa. Kadang ada screen tearing di mode fidelity. Xbox Series S menderita—cuma 30 FPS dengan resolusi dinamis 1080p-1440p, dan pop-in tekstur lumayan.
Handheld (Z2 Extreme / Steam Deck / ROG Ally): Belum terdapat data praktis untuk handheld. Tapi berdasarkan spek, Steam Deck (APU Van Gogh) bisa main di medium 30 FPS 800p, tapi baterai cuma tahan 1,5 jam. ROG Ally (Z1 Extreme) mungkin lebih baik 45-50 FPS di low 900p. Tapi loading lama dan panas—not recommended buat main serius.
---
### 3. Gameplay: Berantem yang Brutal dan Addictive
Gameplay Destiny 2 itu first-person shooter dengan mekanik looter shooter ala Borderlands, tapi lebih tactical. Lo punya tiga kelas (Hunter, Titan, Warlock) dengan subclass elemen (Solar, Arc, Void, Stasis, Strand). Setiap kelas punya skill unik—misalnya Hunter bisa dodge dan tether, Titan punya shield dan punch kuat, Warlock bisa heal dan fly. Combat-nya fast-paced, kombinasi senjata (kinetik, energi, heavy) dan ability. Ada juga raids 6 pemain yang butuh koordinasi super ketat—brutal tapi rewarding.
Verdict Metaplay: Beli Sekarang atau Tunggu Patch? Destiny 2 adalah live service game—setiap 3 bulan ada season baru, expansion besar tiap tahun. Lo bisa beli Lightfall (expansion terbaru) + Annual Pass buat akses semua konten setahun ke depan. Tapi hati-hati: FOMO (Fear Of Missing Out) kuat banget. Kalau lo baru mulai, saran: Beli Sekarang kalau lo siap grinding dan punya temen main. Tapi kalau lo tipikal yang gak suka paywall atau time-gated content, Tunggu Patch (atau Final Shape expansion di 2024) karena banyak konten lama bakal di-vault.
---
### Skor: 7.8/10 (Worth Your Time — Tapi Siapin Mental)
Destiny 2 itu kayak hubungan toxic: lo bilang "I am done" setelah 10.000 jam, tapi balik lagi main 160 jam cuma buat mastiin. Artikel PC Gamer tentang reviewer yang main 10.000 jam lalu bilang done tapi main lagi 160 jam itu relatable banget. Game ini punya gunplay terbaik di kelasnya, lore yang dalem, dan komunitas yang solid. Tapi grind-nya gak ada habisnya, microtransaction menjamur, dan konten lama dihapus seenaknya.
Keputusan Akhir: Beli kalau lo penggemar looter shooter sejati yang siap no-life. Skip kalau lo benci FOMO atau punya backlog game lain. Tunggu kalau lo mau lihat Final Shape bakal jadi redemption atau disaster. Tapi satu hal pasti: Destiny 2 bakal selalu punya tempat spesial di hati gamer yang udah ngabisin ribuan jam—entah itu cinta atau benci.
— Metaplay Division, Reviewer Senior


