Resident Evil Requiem: Revolusi Open World

Resident Evil Requiem: Revolusi Open World

Resident Evil Requiem punya potensi untuk menjadi standar baru dalam genre horor, atau justru menjadi titik balik di mana seri ini menjadi terlalu ambisius dan kehilangan jati dirinya.

MetaPlay TeamMarch 5, 20269 views3 min read

(Photo By Martin)


Capcom bener-bener "maruk" kali ini; mereka pengen masukin semua hal ke dalam satu paket. Ada horor yang bikin sesak napas, ada aksi ala John Wick, dan tentu saja... mas Leon kita kembali lagi.

Setelah seminggu nyobain, ini opini jujur dari meja redaksi Metaplay. Gak ada sugarcoating, kita bahas apa adanya.


1. Dua Kepribadian dalam Satu Game

Capcom kayaknya sadar kalau fans RE itu kebagi dua: tim horor klasik yang suka sembunyi di pojokan, sama tim aksi yang hobi tendang sana-sini. Makanya, mereka kasih kita dua perspektif yang beda total:

  • Sisi Grace Ashcroft (The Real Horror): Bagian ini pure bikin kena mental. Main pake sudut pandang orang pertama (1st person), peluru pelitnya minta amunisi, dan atmosfernya... gila, bikin telapak tangan keringetan. Ini RE yang kita kangenin, yang bikin kita takut buka pintu selanjutnya.

  • Sisi Leon S. Kennedy (The Action Hero): Begitu ganti ke Leon, vibe-nya berubah 180 derajat. Raccoon City yang sekarang jadi semi-open world itu luas banget. Di sini lo bakal ngerasa jadi badass. Seru? Banget. Tapi jujur, kadang gue ngerasa ini udah kayak main Call of Duty versi zombie karena aksi Leon yang terlalu overpower.


2. Raccoon City yang "Hidup" Kembali

Ngeliat Raccoon City dibangun lagi pake RE Engine terbaru itu bener-bener manjain mata. Detail ujan, pantulan cahaya di aspal, sampe tekstur zombienya itu next-gen parah. Tapi ya itu, Capcom jualan nostalgianya kenceng banget di sini. Buat lo fans veteran, lo bakal seneng liat banyak easter eggs. Tapi buat pemain baru, mungkin bakal ngerasa "ini kenapa sih pada heboh banget sama kota ini?"


3. Reality Check: Nasib Kaum Handheld

Ini bagian yang paling banyak ditanyain ke Metaplay: "Bang, kuat gak di Steam Deck/ROG Ally?"

  • Steam Deck: Jujur, Deck agak ngos-ngosan di area open world. Lo harus rela turunin setting-an ke Low-Medium dan aktifin FSR biar dapet 30 FPS yang stabil. Bisa main? Bisa banget, tapi jangan harap visual kinclong kayak di konsol.

  • ROG Ally (Z2 Extreme): Chip baru ini emang bukan gimik. Di 900p, lo bisa dapet 45-50 FPS dengan visual yang masih enak dipandang. Tapi ya gitu, batre lo bakal keserep kayak zombie laper.

  • PS5 Pro: Nah, kalau lo punya hardware ini, ini adalah cara terbaik maininnya. Mulus, tajem, dan nggak ada drama frame drop.


4. Verdict: Beli Gak Nih?

Skor Akhir: 9/10 (Gak usah mikir, sikat!)

Resident Evil Requiem itu bukti kalau Capcom masih megang takhta raja horor. Meskipun mereka terlalu banyak main aman pake nostalgia karakter lama, secara gameplay ini solid banget. Lo dapet dua pengalaman berbeda dalam satu harga—itu value yang jarang ditemuin di game AAA jaman sekarang.

Pesan buat Capcom: Next time, coba kasih karakter baru yang bener-bener fresh deh. Kita sayang Leon, tapi dia butuh istirahat, kasihan dia udah dari taun 98 gak tidur-tidur.

Share this article